Arsitektur

Memikirkan Kembali Dasar Kita Berorganisasi

(Pemikiran untuk Ulang Tahun IAI menuju Munas IAI 2018)

TENTANG ARSITEK INDONESIA

Pertama, adanya kesadaran bahwa kita adalah manusia, makhluk Tuhan yang ditugaskan sementara di dunia. Sebagai manusia, kita diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, dan salah satu implementasi dari itu adalah terbentuknya negara.

Indonesia merupakan salah satu negara diantara percaturan negara-negara di dunia. Dan sebagai sebuah negara, Indonesia unik, spesifik, tidak sama dengan negara-negara lain, walau dalam pergaulan internasional memiliki beberapa kesamaan tujuan yang karenanya antar negara bekerja sama dan menjaga hubungan baik.

Sebagai sebuah negara yang terdiri dari berbagai bangsa (baca: suku bangsa), Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dari negara lain. Demikian pula dengan arsitekturnya. Maka demikian pula arsiteknya.

Bahwa saat ini ada sebagian kita yang menganggap bahwa profesi arsitektur di negara Amerika-Eropa lebih maju dibanding dengan di negara kita, itu hanya merupakan persepsi dari pikiran yang telah sekian lama dikendalikan oleh sesuatu yang “bukan kita”. Bahwa agama yang benar seolah adalah arab, bahwa dunia yang benar seolah adalah barat.

Rasa inferior mendidik kita, dan karenanya kita meyakini, bahwa kita tertinggal dari negara yang sementara orang menyebutnya “maju”. Padahal belum tentu posisinya seperti itu. Kriteria yang disematkan adalah kriteria yang ditetapkan oleh “mereka”, bukan orisinil yang ada pada kita ataupun kakek-nenek kita.

Kita tidak merasa tertinggal karena tujuan kita berbeda dengan mereka. Mereka ke utara, kita sedang menuju selatan. Kita tidak sedang menggapai apa yang telah mereka raih. Karena sudah terbukti peradaban mereka di ujung jurang kehancuran. Bahwa materialisme saja tidak bisa digunakan untuk membuat hidup kita berkelanjutan. Bahwa niat baik globalisasi kita yakini sudah dirasuki niatan untuk menguasahi dan eksploitasi yang tidak lain merupakan wujud dari keserakahan. Kita bangsa nusanatara lain. Kita adalah makhluk liyan. Kita adalah ibu. Kita memelihara. Kita ngemong dunia.

Atas dasar itu kita membangun arsitek dan arsitektur kita.

TENTANG KESADARAN KETUHANAN DALAM BERORGANISASI

Salah satu watak bangsa-bangsa di nusantara adalah kesadaran bahwa dirinya dikuasai oleh sesuatu yang maha tinggi, yang bagi sementara kebudayaan disebut Tuhan. Bahkan negara Indonesia meletakkan kesadaran ini dalam sila pertama dasar negaranya.

IAI jelas menyebutkan Pancasila sebagai asas organisasi. Tetapi menjadi pertanyaan besar apakah kita sudah melibatkan Tuhan dalam kita berorganisasi selama ini? Ataukah Tuhan kita beri porsi kepada sesuatu yang bersifat pribadi atau bahkan hanya kita sematkan dalam tataran formalitas belaka?

Kita berpendapat, sebaiknya Tuhan kita libatkan dalam setiap segi kehidupan, karena Tuhan sediri berkata “tidak aku ciptakan manusia kecuali untuk kembali kepadaKu”. Maka kita berpendapat tidak ada peluang bagi manusia untuk berbuat apapun yang lain, kecuali hanya untuk beribadah pada Tuhan. Maka berorganisai ini pun sebagai salah satu bentuk pengejawantahan pengabdian pada Tuhan.

TENTANG SANDARAN PRANATA ARSITEK INTERNASIONAL

Kita hidup dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Itu betul. Tapi blended kita dengan negara-negara lain tetap dalam porsi dimana eksistensi negara bangsa tetap terjaga, sebab memang demikian tujuan terbentuknya negara bangsa.

Dengan demikian, apa yang baik bagi suatu negara belum tentu baik juga bagi negara kita. Apa yang disepakati oleh dunia internasional, tidak harus kita adopsi mentah-mentah apabila memang tidak ada keharusan untuk itu.

Pokok pertimbangan kita dalam menyikapi hal itu adalah mengembalikan kepada tugas yang dibebankan Tuhan kepada kita sebagai khalifah (stewardship) di muka bumi. Dari titik itu kita meyakini bahwa pasti ada maksud Tuhan menurunkan kita di bumi Nusantara dan bukan di belahan dunia yang lain. Dan karenanya pasti ada yang unik dari kenyataan tersebut. Itu yang kemudian kita sebut identitas atau personalitas. Dan kita meyakini bahwa pencarian orisinilitas atau jatidiri ini sudah dijalani ribuan tahun oleh kakek-nenek kita, dan tugas kita melanjutkan pencarian tersebut sebagai bekal kita menjalankan tugas sebagai manifestasi (tajali) Tuhan di muka bumi.

TENTANG KODE ETIK DAN KAIDAH TATA LAKU

Kita sepakat bahwa kode etik merupakan nyawa sebuah profesi. Ada sementara pendapat dari penatar Etik dan Kaidah Tata Laku bahwa pelanggaran hukum pasti merupakan pelanggaran kode etik. Kita tidak sepakat dengan diktum yang demikian. Karena walaupun ada irisannya, etik tidak sama dengan hukum. Pelanggaran hukum tidak otomatis merupakan pelanggaran etik. Karena berbeda dengan hukum, etik tidak buta. Etik bertujuan memberi bimbingan ke arah kebaikan dan bukan hukuman. Etik lebih kepada kumpulan nilai tentang baik dan buruk, bukan semata-mata salah dan benar.

Dan karenanya mereka yang menjadi Penatar Kode Etik mestinya seseorang yang sudah mencapai kualitas diri waskita, sudah beranjak dari dunia materi mengarah ke sesuatu yang sifatnya ruhani. Tapi mencari kualitas yang demikian tidak mudah, karena kebanyakan kita masih berkutat pada urusan dunia yang menyebabkan kita masih penuh kepentingn, prasangka, dan hubungan kolega pertemanan. Maka untuk Penatar Kode Etik ada dua opsi: pertama kita menginginkan penatar kode etik adalah orang yang memiliki kualitas begawan, karena fungsinya adalah sebagai guru, pembimbing, laksana kiai atau brahmana yang mengajarkan moral. Atau opsi kedua kita menganggap penatar kode etik adalah orang yang memberi informasi tentang kode etik. Dengan demikian tidak perlu orang khusus untuk berperan sebagai penatar.

Tapi opsi yang manapun, mengangkat seseorang sebagai penatar kode etik tidak bisa diselenggarakan secara serampangam, apa adanya, dan sekedar formalitas. Bila yang terakhir ini yang kita tempuh, tidak ada bedanya dengan mengambil orang di jalan dan kita labelin dia dengan sertifikat Penatar Kode Etik.

KESADARAN TENTANG POSISI DALAM ORGANISASI

Karena kita sadar akan “Ketuhanan Yang maha Esa” dan gerak-gerik kita sesuangguhnya tidak lain adalah manifestasi dari pengabdian kita kepadaNya, maka kita perlu memposisikan diri dalam organisasi secara benar. Kita yakin kesadaran akan posisi ini yang membuat tugas kita sebagai pengelola dunia berjalan dengan lebih baik. Karena itu tidak semua orang bisa menjadi Ketua, dan belum tentu posisi sebagai Ketua itu baik bagi dia. Dan sesungguhnya tidak satu pun dari kita tahu yang terbaik bagi kita. Kita hanya menjalankan ijtihad, asumsi menurut akal dan persepsi, bahwa sesuatu itu lebih baik bagi kita dan orang lain. Sesungguhnya yang paling tahu mana yang terbaik bagi kita adalah Dia yang memiliki saham terbesar atas diri kita, yaitu Tuhan. Apakah kita sudah bertanya kepada Tuhan atas keinginan kita atas posisi kita di organisasi?

Karena setiap posisi memiliki potensi untuk menjadikan kita orang lebih mulia, maka tidak penting apakah kita sebagai anggota, sebagai bendahara, sebagai ketua, yang manapun dari posisi itu memiliki peluang yang sama menjadikan kita orang yang memiliki nilai baik, dan karenanya diterima Tuhan.

Ketika menjadi anggota, kita menjalankan fungsi sebagai anggota sebaik-baiknya, ketika sebagai ketua, kita menjalankan tugas kita sebaik-baiknya. Tidak ada dari masing-masing lebih mulia dibanding yang lain. Bahkan bisa jadi sebagai anggota kita memiliki rapot yang lebih baik dibanding apabila kita sebagai bendahara, misalnya. Seperti halnya kata Ki Hajar Dewantara, ing ngarso sung tulodo, in madyo mangun karso, tut wuri handayani ( bila berposisi di depan kita menjadi teladan yang baik, bila di tengah kita ikut menyokong, bila di belakang kita menjadi follower yang taat), dan ketiga-tiganya sama-sama mulia.

Bila kesadaran ini kita terapkan dalam kehidupan, tidak ada calon walokota yang bayar ke partai untuk menjadi walikota, tidak ada calon presiden yang menyebarkan uang agar dipilih, tidak ada hakim yang menyuap pada ketua pengadilan agar diberi suatu perkara. Karena menjadi presiden maupun menjadi tukang tambal ban ,memiliki potensi yang sama untuk menjadi mulia. Peluang yang sama untuk bisa mencapai Tuhan.

Dan demikian jabatan Ketua IAI juga bukan merupakan keinginan. Tapi mestinya merupakan penugasan Tuhan, atau minimal atas seijin Tuhan. Dengan demikian tidak ada yang berani mencalonkan diri, karena itu pamali bila dihubungkan dengan pesan Tuhan dalam kitab suci, bahwa semua nabi, rasul, bhiksu, pendeta, tidak ada satu pun dari mereka yang merasa lebih baik dari orang lain. Mereka selalu bilang “robbana dholamna angfusana”, atau “laillahaillaanta subhanan inni kuntu minadholimin”. Selalu merasa dirinya buruk. Bila Tuhan sudah mengajarkan kita seperti itu masih beranikah kita mencalonkan diri dan kampanye bahwa kita lebih baik dari yang lain?

TENTANG PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Organisai kita menjunjung tinggi musyawarah. Bahkan otoritas tertinggi organisasi disebut Musyawarah Nasional. Tetapi menjadi aneh bila setiap kali akan mengambil keputusan penting kita melakukan pemungutan suara, bukannya mengedepankan musyawarah. Kita terlalu mendewakan apa yang mereka sebut “one man one vote” dan semua berkedudukan dan memiliki suara yang sama.

Kita terlalu kuatir untuk disebut tidak demokratis, suatu terminologi yang kita kultuskan seolah menjadi kebenaran yang mutlak.

Betul. Kita memang mencari benaran itu. Tetapi kita meyakini bahwa kebenaran itu suatu konsep yang hidup di tataran ideal, dan posisi kita sebagai manusia selalu ada dalam posisi mengejarnya.

Karena berada dalam tataran konsep, maka ada tiga kebenaran, yakni kebenaran kita sendiri, kebenaran orang banyak, dan kebenaran yang hakiki. Kebenaran sendiri seringkali berbeda dengan kebenaran orang lain. Dan kebenaran orang banyak tidak selalu menjadi kebenaran yang hakiki. Hitler pun terpilih secara demokratis.  Dalam kontek ini maka demokrasi tidak selalu dapat mencapai kebenaran yang hakiki, yang bisa mengantarkan kita pada Tuhan.

Para pemikir awal demokrasi pun sudah mengingatkan bahwa demokrasi baru akan berhasi bila diterapkan pada masyarakat yang homogen dalam skala sempit. Maka ketika kita bicara soal negeri kita yang luas dengan masyarakatnya yang heterogen, yang terjadi adalah maraknya manipulasi citra diri karena kekuasaan berada pada penguasa informasi, yang dengan demikian jauh dari tujuan utama mencari kebenaran yang hakiki. Dengan demikian pencitraan itu lebih dekat pada kebohongan.

Pada masyarakat modern, kualitas dipandang penting. Dan ini didengung-dengungkan di berbagai aspek kehidupan. Tapi sampai pada konsep demokrasi, masyarakat modern mengingkari hal ini, karena kali ini kuantitas menjadi dewa. Nilai manusia direduksi hanya sekedar angka. Ketika harus memilih antara Donni atau Iman sebagai Ketua Umum IAI, nilai Ketut Rana dan Sukidi sama persis. Padahal dengan pengetahuan organisai yang digembleng selama dua puluh tahun, kita yakin Ketut Rana bisa lebih dipercaya untuk menentukan mana yang lebih layak dipilih sesuai kebutuhan organisasi. Dan dalam ‘one man one vote’, orang seperti Ketut Rana ini akan kalah karena jumlahnya hanya tujuh belas, sedangkan orang seperti Sukidi jumlahnya tujuh belas ribu.

Dan kita masih mengaku berasakan Pancasila?

Pertama kita mengingkari Tuhan, karena kita tidak melibatkan Tuhan dalam berorganisasi. Kita lebih percaya Jacques Rousseau yang bilang bahwa kekuasaan berasal dari anggota organisasi. Kedua kita mengabaikan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dalam permusyawaratan perwakilan”. Apakah kita sudah berusaha mencari hikmah, sesuatu membuat kita mencapai derajat brahmana? Apakah kita sudah mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan? Betulkah #kitaPancasila?

 

oleh: Rizal Syarifuddin