ArsitekturCeloteh

Plagiat

Sebetulnya Wibowo adalah lulusan Departemen Arsitektur ITS Surabaya. Tetapi karena sudah sekian lama ada di dunia birokrasi pemerintah kota, dia hampir tidak pernah lagi mendesain bangunan.

Maka ketika Pak Tinggi Sambirono minta tolong merancang rumah tinggalnya, Wibowo meminta kawannya, Jatmiko, untuk mengerjakan proyek tersebut. Jatmiko kawan seangkatan Wibowo di ITS Surabaya. Dia memiliki studio arsitektur kecil di Surabaya. Disamping itu, kawannya itu juga aktif di Pengurus Provinsi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur. Maka Wibowo yakin, Jatmiko bisa membantu Pak Tinggi mewujudkan rumahnya.

Karena penugasan ini, Jatmiko menjadi sering bolak-balik Surabaya-Sambirono dalam setahun terakhir sampai dengan hari Minggu lalu ketika ada selamatan di rumah Pak Tinggi, menandai mulai ditempatinya rumah baru tersebut.

“Nampaknya Pak Tinggi puas dengan desain Nak Miko,”kata Carik Karto pada Jatmiko, dan Wibowo. Siang itu mereka rehat di teras rumah Carik Karto selepas selamatan di rumah Pak Tinggi Sambirono.

“Barangkali semua yang datang tadi hanya melihat bentuk fisik bangunan, Pak. Padahal desain rumah itu baru kelihatan berhasil atau tidak setelah sekian waktu ditempati, Pak,”Jatmiko merendah.

“Tapi paling tidak Nak Miko sudah memberi padangan baru terhadap penduduk dusun tentang bagaimana bentuk sebuah rumah,”kata Carik Karto lagi.

“Semoga itu dalam arti yang baik ya Pak,”jawab Jatmiko,”ngomong-ngomong tadi saya mendapat sebuah pemahaman baru yang sangat berharga.”

“Apa itu Nak Miko?”Carik Karto tertarik.

“Waktu di rumah Pak Tinggi tadi saya didekati Pak ….,”Jatmiko berpikir sejenak,”ah lupa lagi saya namanya, siapa tadi, Wok?”

“Pak Kaji Rofiq,”Wibowo membantu.

“Oh itu. Pak Kaji Rofiq itu orang paling kaya di Dusun Sambirono. Sawahnya Paling Luas,”Carik Karto menimpali.

“Ya, tadi itu Pak Kaji Rofiq bilang, kagum dengan desain saya. Dia bilang ‘sayangnya rumah saya baru dibangun. Andaikan saya lihat karya Dik Miko ini sebelumnya…,”Jatmiko menghela napas sejenak,”tadinya saya sudah ge-er saja, Wah dapat klien baru nih. Tetapi ternyata lanjutan Kalimat Pak Kaji Rofiq ‘Andaikan saya lihat karya Dik Miko ini sebelumnya, pasti saya akan contoh.”

Carik Karto terkekeh mendengarnya.

“Awalnya saya agak kaget juga, Pak. Karena selama ini pikiran saya – dan juga kawan-kawan di IAI – begitu mendewakan yang disebut hak kekayaan intelektual. Karya arsitektur itu ada copy rightnya. Bahwa penjiplakan atasnya merupakan perbuatan tercela sekaligus melanggar hukum,”Jatmiko menerangkan.

“Iya, Pak. Tadi waktu jalan pulang kami sempat mendiskusikan,”Wibowo menambahi,”akhirnya kami berdua berkesimpulan, kegiatan mencontoh atau mencontek itu tidak selamanya merupakan perbuatan yang salah. Bagi orang desa, hal itu bisa jadi merupakan salah satu bentuk pengakuan atas sebuah karya.”

“Betul Pak. Jadinya saya yang awalnya hendak marah jadinya malah tersanjung. Dan pemahaman ini akan saya sampaikan pada kawan-kawan saya di IAI. Bahwa bisa jadi pola pikir yang kami pakai selama ini salah. Kami demikian terpengaruh oleh pola pikir bangsa Barat yang sangat materialistik, sehingga tidak berhasil menangkap ekspresi penghargaan yang lain,”terang Jatmiko.

“Ya, kalau dipikir-pikir. Bila contoh-mencontoh dilarang, tiru-meniru dianggap nista, bagaimana bisa karya arsitektur tradisional akan sampai pada kita,”Wibowo menambahi lagi.

“Maksudnya bagaimana, Le?”tanya Carik Karto.

“Kita selama ini diajari di kampus, betapa nenek moyang kita telah menghasilkan karya arsitektur yang bernilai tinggi,”jawab Wibowo,”ada Baganjong di Sumatera, ada Joglo di Jawa, ada Tongkonan di Toraja dan sebagainya. Bentuk yang indah itu lestari karena adanya budaya tiru-meniru, contoh-mencontoh secara turun-menurun sehingga bentuk itu sampai ke kita sekarang.”

“Dan lagi, mengapa kita demikian sombong mengklaim sebuah karya adalah karya kita sebagai arsitek? Padahal dalam kenyataannya sesungguhnya sebuah karya arsitektur merupakan karya bersama. Ada arsitek, ada insinyur sipil, ada ahli mekanikal elektrikal, ada mandor, ada tukang, yang apabila salah satu dari mereka itu tidak bekerja dengan baik, karya arsitektur itu tidak dapat terwujud,”Jatmiko semakin bersemangat seolah menemukan inspirasi baru dari hasil karya terbarunya ini,”terlebih lagi, kami sebagai arsitek tidak betul-betul menemukan sesuatu yang baru. Kami hanya merangkai dari sesuatu yang sudah ada. Apapun inovasi yang kami temukan, tetap saja ada lantai, dinding, atap, jendela, pintu, tangga, yang kesemuanya sudah dibuat jauh sebelum profesi arsitek diformalkan.”

“Dan kalau mau lebih jauh lagi, semua ide kita toh merupakan titipan dari Tuhan,”sela Wibowo,”msa kita berani-berani mengklaim bahwa itu orisinil dari kita. Memangnya kita siapa?”

Carik Karto terkekeh-kekeh sambil menghisap rokok tingwenya.

“Makanya, saya bersyukur betul dapat kesempatan mengerjakan proyek rumah Pak Tinggi itu, Pak Karto,”kata Jatmiko,”karena lontaran Pak Kaji Rofiq itu, seolah Tuhan manampar kesombongan saya dan juga barangkali kawan-kawan saya di IAI.”

Pak Karto kembali terkekeh-kekeh,”tapi ya jangan lupa. Usaha seseorang tetap perlu dihargai. Sebab bila hal itu Nak Miko bawa ke titik paling ekstrem, nanti membuat orang malas berusaha menghasilkan hal-hal baru. Membuat orang pilih jalan pintas untuk sekedar meniru.”

“Kalau menurut Bapak, intinya mencari presisi keseimbangan dari segala sesuatu. Karena Tuhan mencintapkan jagar raya ini dengan kesimbangannya. Maka kita perlu mencontek Tuhan untuk mencari titik keseimbangan juga,”tutup Carik Karto.

 

/rzl