Dusun Sambirono

Pulang

Dengan wajah penuh keringat Widodo masuk ke rumah. Saat itu matahari belum lama menyapa Dusun Sambirono.

“Lho kok basah kuyup tho, Le,”kata Carik Karto ketika Wibowo sungkem ke Bapaknya itu.

“Hehehe, terlalu bersemangat Pak,”jawab Wibowo Sumringah,”tadi dari Jatiroto ke sini jalan kaki,Pak.”

Lhadalah, memangnya gak punya uang untuk naik ojek tho?”Carik Karto Keheranan.

“Tidak Pak,”jawab Wibowo sambil menenggak air dari kendi.

Prosesi pulang ke dusunnya dilakukan Wibowo setiap bulan. Biasanya pulang kerja dari Pemkot dia beres-beres sebentar di tempat kos, kemudian naik bus dari Terminal Bungurasih sampai Jatiroto. Dari kota kecil ini dia bisa naik becak, ojek, atau angkutan pedesaan. Tengah malam sudah sampai di rumahnya di Dusun Sambirono, sekitar sepuluh kilometer dari Jatiroto. Selalu, Carik Karto menunggu di teras rumahnya sambil menghisap rokok tingwenya. Tidak ada sambutan khusus bagi anak semata wayangnya itu. Juga tidak ada pelukan kemesraan. Apalagi ucapan “I love you” di telinga. Bagi orang dusun seperti Carik Karto, cinta tidak perlu diucapkan, tapi dikerjakan. Kesabaran dia menunggu secara istiqomah itulah sebetulnya bentuk kesejatian kasih sayang bapak ke anak.

“Semalam Bapak nunggui sampai pagi ya?”tanya Wibowo. Bapaknya hanya menjawab dengan senyum. Dan memang apa yang sudah kita lakukan tidak perlu dikatakan untuk sekedar mendapat credit point.

“Ya sudah mandi sana, terus sarapan. Itu Bik Sumi barusan mengirimi sego urap dan tempe goreng. Mumpung masih panas,”kata Carik Karto.

Sego urap adalah nasi yang dicampur dengan parutan kelapa, dimakan dengan tempe goreng yang masih hangat. Sangat sederhana memang, dan tidak istimewa secara tampilan. Tapi itu yang dirindukan Wibowo setiap kali pulang ke dusunnya. Dia kadang tidak paham apa yang sebetulnya membuat sego urap itu begitu nikmat. Sebab sego urap di tempat lain – dengan komposisi yang sama – menghasilkan sensasi rasa yang tidak sama dengan sego urap Bik Sumi. Barangkali udara dan hawa dusunnya turut mempengaruhi hasil akhir makanan itu ketika sampai di lidah.

Tapi apapun itu, prosesi pulang ke rumah setiap bulan selalu membuat Wibowo bersemangat. Dia tidak bisa menjelaskan mengapa. Tetapi ada sesuatu yang mengikat dirinya dengan rumah ini. Dan kerinduan untuk pulang kadang datang sebelum jadwal.

“Ya pulang itu memang mimpi sejati kita,Le,”kata Carik Karto suatu ketika,”manusia memang senang dengan kepulangan, karena pulang itu menuju rumah, apapun istilah rumah di sini. Bisa gubuk, bisa dusun, bisa negeri dan seterusnya.”

Carik Karto menghembuskan asap tingwe ke udara.

“Pulang itu konsep yang membahagian, Le. Ketika kamu dari kantor pulang ke tempat kosmu, kamu pasti merasakan bahagia. Ketika kamu pulang dari Surabaya setiap bulan ke Sambirono, kamu juga pasti merasakan bahagia, karena kamu mendekati kesejatian dirimu ketika kamu pulang itu.”

“Iya sih pak. Mungkin karena itu dalam bahasa Inggris pulang itu disebut go home, menuju rumah,”tambah Wibowo.

“Nah itu dia. Di belahan bumi manapun rasanya memiliki kerinduan yang sama,”Carik Karto membenarkan,”kamu tahu kenapa orang yang meninggal disebut berpulang?”

Kemudian Carik Karto menjawab sendiri pertanyaan itu,”ya karena pada dasarnya kita bukan penduduk dunia ini. Ketika kita mati, sesungguhnya kita melanjutkan perjalanan kita pulang ke rumah sejati kita. Maka mati sebetulnya sangat kita impikan tho?”

Wibowo agak ragu-ragu dan memilih tidak menjawab.

“Itu coba kamu lihat kalau lebaran. Orang dengan cara apapun, perjuangan seberat apapun, berusaha untuk mudik. Pulang ke kampung halamannya. Itu lumlrah, Le. Karena dalam sanubari setiap orang ada kerinduan untuk pulang.”

“Maka sebetulnya kehidupan ini kan tentang perjalanan pulang. Kembali ke tempat asal kita, Ke Yang Satu Itu. Dan sungguh, itu sangat menggairahkan, Le. Sebagaimana kamu bergairah pulang ke Sambirono setiap bulan”