Dusun Sambirono

Komunikasi Ghaib

Sambirono memiliki geografis yang cukup unik. Dusun ini terletak di lereng selatan pegunungan Argopuro. Jauh di ujung selatan ada bukit memanjang yang disebut orang desa sebagai Gunung Tembok. Sebetulnya ini bukan gunung, lebih kepada bukit kecil saja. Tetapi karena turun temurun orang menyebutnya Gunung Tembok, maka sampai sekarang orang menyebutnya begitu.

Di sisi timur Dusun Sambirono berbatasan dengan desa Tanggul. Disebut demikian karena memang ada tanggul alam yang membentuk aliran Sungai Bondoyudo dan mencegahnya meluap ke sisi kiri kananya.

Karena letak geografis yang demikian, dusun Sambirono seolah terbentengi dari daerah sekitarnya, dan karena itu pula sinyal jaringan komunikasi agak sulit menjangkau daerah ini. Dan anehnya lagi, laju modernitas kota ikut lambat merembes ke dusun ini.

Hal tersebut yang seringkali membuat Wibowo frustasi, karena kesulitan untuk menghubungi ayahnya, Carik Karto. Padahal dia sudah berusaha membelikan handphonelengkap dengan sim card sekaligus pulsanya. Masalahnya adalah: sinyal!

Wibowo tidak habis pikir mengapa operator telepon seluler tidak ada yang mendirikan menara BTS di salah satu bukit yang mengelilingi dusunnya. Dan yang lebih membuat Wibowo frustasi, sepertinya warga dusun tidak terlalu peduli dengan hal itu.

Mereka tetap hidup seperti jaman kakek mereka hidup. Memang, beberapa sudah ada yang memiliki telepon seluler. Tapi tidak terlalu peduli bahwa sinyal tidak diterima secara merata di setiap sudut dusun. Bagi mereka kalau sinyal sedang bagus, ya mereka pakai telepon seluler, bila sinyal sedang mabur, mereka ya tidak pakai telepon seluler. Kehidupan tidak tergantung itu.

Bila mau mengundang acara tahlilan atau bancaan, mereka tidak memanfaatkan sms blast atau whatsapp group. Mereka tetap datangi tetangga sekitar satu-persatu.

“Itu kan tidak efisien,”kata Wibowo suatu ketika.

Opo efisien kuwi, Le?” sahut Carik Karto.

“Ya lebih menghemat waktu begitu lho, Pak,”jawab Wibowo.

“Kita kan punya cukup waktu tho, Le,”sergah Carik Karto lagi,”memangnya waktu selebihnya mau buat apa sehingga kamu perlu efisien itu? Apa buat mentelengi telepon seperti yang setiap kali kamu lakukan itu?”

Wibowo diam sejenak. Tapi dia masih belum puas,”tapi kan bila pakai handphone, saya kan bisa sewaktu-waktu memantau kondisi Bapak di sini?”

“Jaman dulu tidak ada telepon, mbah-mbahmu juga baik-baik saja kan, Le. Kenapa harus tergantung pada telepon?”

“Tapi kan susah kalau akan berkomunikasi?” Wibowo lagi.

“Ah, tidak juga,”kata Carik Karto,”waktu Bapakmu ini sembilan tahun mondok di Tebu Ireng, hubungan dengan Mbahmu baik-baik saja.”

“Kalau ada apa-apa bagaimana cara mengabarinya, dong?”

“Lha, kita kan punya hubungan batin, tho Le,”jawab Cari Karto sambil merebahkan tubuhnya di atas amben bambu.

“Ah itu kan klenik,”potong Wibowo.

“Kok klenik?”

“Ya kan ghaib, gak bisa diterima akal?” bantah Wibowo.

“Memangnya telepon tidak ghaib Le?” jawan Carik Karto Santai sambil menatap genting terasnya yang tidak berplafon,”kalau bagi Bapak, telepon ya ghaib juga. Sama dengan batin. Lha itu kamu ada di Surabaya, tapi suaranya bisa terdengar sampai sini. Bagaimana melihat suara itu berjalan menembus langit menuju Sambirono? Ghaib juga kan?”

Le, tidak bisa dong, gara-gara kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu, langsung kamu sebut klenik. Teknologi batin itu bisa jadi sama atau malah lebih tinggi daripada teknologi teleponmu itu. Kamu tidak bisa memakainya ya karena kamu tidak mau belajar menggunakannya. Padahal dua-duanya kan sama, yaitu kamu tidak benar-benar paham tho?”

 

/rzl