Dusun Sambirono

Pemimpin

Rokok tingwe, begitu biasanya disebut. Itu bukan merupakan merek rokok. Itu adalah singkatan dari rokok linting dhewe, alias rokok yang diracik dan dilinting sendiri. Di Sambirono para lelaki sudah terbiasa menikmati rokok ini. Karena harganya yang memang sesuai dengan kantong mereka. Beli kertas klobot, tembakau, dan kalau punya lebihan uang sekaligus beli cengkeh. Taruh tembakau di atas kertas, taburi dengan cengkeh, dan linting itu menjadi rokok – maka tingkat kenikmatannya tidak kalah dengan rokok pabrikan. Soal quality standard? Ah itu kan konsep orang kota saja. Dan bagi Pak Carik Karto serta kawan-kawan desanya, rasa itu tidak hanya datang dari tembakau dan cengkeh yang dibakar. Ini datang dari bagaimana cara orang menikmati. “Jangan biarkan unsur luar dirimu mempengaruhi rasa nikmat atau tidak nikmat yang kamu rasakan. Itu harus dari dalam dirimu”, begitu kata Pak Carik Karto suatu kali ketika Bowo bertanya.

“Iya. Tapi kalau racik sendiri setiap mau merokok, bagaimana menjamin bahwa komposisinya selalu sama satu dan setelahnya?”

“Kenapa harus sama? Diri kita sendiri kan tidak selalu sama dari waktu ke waktu. Ya perasaannya, ya emosinya, ya suasana batinnya, dinamis juga tho? Kadang-kadang hati dongkol, kadang sumringah, kadang otak terasa tumpul, kadang sebaliknya”

Bowo diam merenungkan.

“Malah, kalau rokok dengan rasa yang sama setiap batangnya, itu jangan-jangan tidak sesuai dengan kebutuhan kita yang setiap kali berubah. Kalau rokok tingwe kan rasanya tidak harus sama. Karena rokok itu cuma sarana saja kok. Sebagai katalisator atas rasa nikmat yang kita lahirkan dari dalam diri kita. Iya tho?”

Bowo heran juga, kata-kata Bapaknya kok tidak seperti orang desa.

“Bapak itu otaknya canggih seperti itu kok tidak menggantikan Pak Bagyo jadi Tinggi?”

Bapaknya menatap anak semata wayannya dengan heran?

“Memangnya untuk jadi pemimpin cuma butuh ini saja?” kata Carik Karto sambil meletakkan jari telunjuknya di jidatnya sendiri.

“Ya untuk memimpin orang kan butuh kepandaian,”jawab Bowo.

“Begini ya Le, kita orang nusantara ini diajari mbah-mbahmu, bahwa hidup itu menjalankan dharma,, ngelakoni urip. Bukan memilih peran.”

Dalam hati Bowo agak menyesal melontarkan wacana tadi. Pasti setelah ini Bapaknya nyerocos panjang tentang filsafat leluhurnya.

“Coba Le, mana yang lebih baik, merasa diri kita lebih baik dari orang lain atau merasa diri kita lebih buruk dari orang lain?”

Bowo menatap kosong ke dinding kayu di depannya.

“Kamu kan pasti diajari Gus Mansyur di langgar, bahwa semua nabi selalu merasa dirinya hina. Tidak ad yang mengkalim mereka orang baik. Ingat ketika Nabi Adam bilang robbana dhalamna, duh gusti sesunggunya hamba orang yang dhalim. Atau ketika Nabi Yunus berdoa laillahailla anta subhanaka inni kuntu mina dhalimin, sama juga kan?”

Bowo masih tidak merespon.

“Mana ada orang baik yang mengaku baik, Le. Kamu tidak malu bilang ke orang-orang, he aku ini pintar lho, maka pilih aku sebagai Petinggi Desa. Begitu?”

Bowo sebenarnya tidak rela menyerah begitu saja. Rasanya ingin membantah omongan Bapaknya. Tapi kalau dia pikir-pikir lagi, rasanya omongan Bapaknya tidak salah. Pikirannya kemudian melayang membayangkan berbagai kampanye yang tahun lalu gegap gempita menghiasi kotanya. Berbagai wajah calon anggota DPR dan DPRD bertebaran di seluruh sudut kota. Menempel di tiang listrik maupun etalase toko. Baliho raksasa di perempatan jalan atau pun bilboarddi atas gedung. Pilih saya: tegas, amanah, dan bertanggung jawab. Baliho yang lain berbunyi pilih saya: jujur, cerdas, dan berprestasi.

“Lagi pula Le, menjadi pemimpin itu jangan dianggap karir yang kamu akan kejar-kejar. Menjadi pemimpin itu penugasan. Dan itu tanggung jawabnya berat. Bukan hanya urusan di dunia saja, tapi terus kamu pertanggungjawabkan sampai akhirat.”

Carik Karto menghela nafas sebentar sambil menghembuskan asap dari rokok tingwenya,”kalau Bapak boleh memilih ya Bapak tidak mau jadi pemimpin. Enak begini saja. Kecuali bila Gusti Pengeran menitahkan, ya gimana lagi, harus mau, harus menjalankan sebaik-baiknya. Kalau bukan Gusti Pengeran yang memerintahka, ora sudi.”

“Bagaimana kita tahu Tuhan memerintahkan kita jadi pemimpin atau tidak?”

Carik Karto tersenyum ke arah anaknya,”kamu akan tahu ketika Gusti Pengeran menitahkan. Percayalah. Asal kamu jujur pada hatimu, Le.”

 

/rzl