Arsitektur

Saya Sebagai Arsitek

Saya menemukan diri saya saat ini beraktivitas membantu orang dan pihak-pihak lain untuk merancang bangunan. Aktivitas ini artinya mulai dari bicara dengan mereka perihal objek yang ingin mereka bangun, kebutuhan dasar mereka, keinginan, dan anggaran yang mereka siapkan untuk bangunan tersebut.

Aktivitas ini oleh masyarakat saya disebut arsitek.

Arsitek ini bila mengacu pada terminologi awal istilah ini digunakan, mengacu kepada sebutan bagi pimpinan proyek dimana sebuah bangunan didirikan.

Sebelum menemukan diri sebagai arsitek, saya menemukan tiba-tiba saya sebagai manusia. Dari perjalanan hidup yang saya alami sejauh ini, saya mendapat pengetahuan bahwa saya diciptakan Tuhan, dan nanti akan kembali pada Tuhan lagi. Tugas saya adalah menjalani hidup yang singkat itu sesuai dengan arahan dari Tuhan.

Saya mengetahui itu.

Kemudian saya percaya bahwa itu benar.

Saat ini saya dalam posisi yakin bahwa memang demikian adanya.

Maka menurut saya, tugas utama saya adalah menjadi manusia sebagaimana Tuhan maksudkan. Maka  setiap hari, setiap waktu, setiap saat yang saya lakukan adalah berusaha menjalankan hidup sebaik-baiknya senyampang berusaha mengkonfirmasi apakah ada pesan-pesan yang dikirimkan Tuhan kepada saya. Pesan ini – barangkali – untuk meneruskan tugas sebelumnya atau ada tugas-tugas baru yang perlu saya kerjakan. Maka setiap saat yang saya jaga adalah sikap waspada, jangan sampai saya tidak menyadari bila pesan ini muncul, Karena Tuhan berhak menyampaikan pesan ini dengan cara yang Dia kehendaki.

Sikap waspada ini menurut saya sikap dasar untuk menjaga kemanusiaan saya.

Maka menjadi manusia, menurut saya, adalah kehendak awal Tuhan kepada saya, dan saya anggap itu adalah prioritas utama hidup saya. Sedangkan menjadi arsitek memiliki prioritas setelahnya.

Dan sebagai arsitek, saya tidak boleh mengorbankan kemanusiaan saya. Bahkan bila perlu saya berhenti menjalankan kearsitekan saya bila itu memiliki potensi mengganggu peran saya sebagai manusia.

Manusia – kata Tuhan – diciptakan untuk menjalankan perintahnya. Tuhan bilang, ”tidak aku ciptakan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu”.  Redaksi kalimat tersebut unik, berbeda dengan kalimat ‘aku ciptakan manusia untuk beribadah kepadaku’. Dengan kalimat kombinasi ‘tidak – kecuali” maka mestinya tidak ada satu pun yang dikerjakan manusia yang bukan upaya dalam rangka menjalankan perintahnya. Tidak ada peluang di luar itu. Ini yang disebut ibadah, upaya manusia untuk menjadi abdi yang baik bagi Tuhan. Jadi ibadah bukan hanya ke pergi masjid atau menyantuni fakir miskin. Tapi semua aktifitas yang diridhaiNya.

 

Dengan demikian aktivitas saya sebagai arsitek juga merupakan upaya memenuhi tugas tersebut. Apabila Tuhan meminta saya beraktivitas, maka saya mengikuti permintaan tersebut. Karena saya adalah manusia – pertama-tama – baru kemudian arsitek.

 

Sebagai manusia yang pengabdi, maka keberhasilan terbesar di dunia ini adalah memuaskan Tuhan sebagai audien utama saya. Demikian pula apabila saya melakukan aktivitas berarsitektur, maka klien pertama dan utama saya adalah Tuhan, setelah itu baru pengguna jasa, pengguna bangunan, masyarakat dan seterusnya. Apabila saya menerima sebuah penugasan, saya akan berasumsi bahwa itu adalah penugasan dari Tuhan. Karena Tuhan tidak biasa memberi penugasan dengan “berteriak dari langit” maka yang saya lakukan adalah terus menerus mengkonfirmasi apa betul penugasan yang datang itu adalah penugasan dari Tuhan.

 

Maka sekali lagi sikap waspada atas segala tanda-tanda menjadi penting.

 

Mengerjakan penugasan secara sungguh-sungguh merupakan keniscayaan.

Hidup sebagai manusia berprofesi sebagai arsitek, terkadang ada godaan untuk mencapai sesuatu yang lain, misalnya kekayaan, ketenaran, pujian dari orang, atau capaian-capaian lain yang bersifat keduniaan.

 

Adanya capaian-capaian tersbut sah saja bila saya meletakkan dalam posisi dan porsi yang tepat. Artinya saya berusaha memandang ‘kenikmatan’ tersebut merupakan dampak langsung atau tidak langsung dari usaha sungguh-sungguh yang saya jalani.

Karena capaian itu merupakan efek sampaing, maka saya juga tidak boleh sedih apabila usaha sungguh-sungguh saya tidak melahirkan keluaran sekunder tersebut.

Bahkan dalam kondisi tertentu, capaian tersebut cenderung saya hindari sebab memiliki potensi menghalangi keluaran primer yang saya harapkan.

Misalnya ketenaran dapat mengurangi potensi saya mendapat ridha dari Audien Utama saya, karena ada penyakit bawaan yang mengikuti ketenaran seperti sikap jumawa, mamandang rendah orang lain, dan riya’ yang mengganggu keihklasan. Semua sikap itu mengganggu perjalanan saya pulang ke Sang Audien.

Maka sebisa mungkin karya saya tidak dimuat di majalah, buku, atau media sosial. Karena kalau pun ada manfaat dari itu, saya meyakini bagi saya lebih banyak mudharatnya. Bila suatu saat ada karya saya yang terpaksa terpublikasi, maka saya merasa perlu menebusnya dengan puasa di berbagai hal lainnya dengan harapan publikasi tersebut tidak terlalu berdampak buruk bagi saya.

Pandangan saya yang demikian, tentu, belum tentu yang paling benar. Tapi bagi saya saat ini, itu yang paling tepat bagi saya – dan menurut saya – juga tepat bagi yang lain. Tetapi saya bisa juga berubah pikiran esok hari. Karena – seperti yang saya sampaikan di awal – setiap waktu saya berusaha waspada bila ada pesan-pesan Sang Audien untuk saya, yang diantaranya bisa saja pesan itu berupa pencerahan bahwa pandangan saya ini kurang tepat.

Bagi saya itu bukan berarti sikap inkonsistensi. Tetapi merupakan wujud pengakuan akan kekurangan kita, keterbatasan pengetahuan kita berhadapan pada Kemahaan Tuhan.