Dusun Sambirono

Rumah

Wibowo merasa prihatin dengan ayahnya. Sejak Ibunya meninggal lima tahun lalu, ayahnya tinggal sendirian. Memang ada Bik Sumi yang tinggal di seberang kebun, sekitar lima puluh meter dari rumah mereka. Bik Sumi memang datang setiap hari mengirim makanan untuk Pak Carik, dan dua kali seminggu membereskan rumah. Tapi tetap saja Bowo khawatir. Tentu saja dia tidak hendak menemani ayahnya tinggal di Sambirono. Bagaimana dengan karir yang selama ini dia rintis?

Suatu saat, ketika pulang ke Sambirono, Wibowo – dengan takut-takut – mengajukan usul agar ayahnya ikut dia pindah ke Surabaya. Tapi seperti yang dia duga sebelumnya, ayahnya tidak mau, bahkan marah. Memang Pak Carik Karto tidak menghardik atau bicara dengan nada tinggi, tetapi langsung mengambil onthelnya dan mengayuhnya menuju sawah. Ya, ketika Wibowo belum juga menutup mulut untuk menyelesaikan kalimatnya, ayahnya sudah berlalu begitu saja.

Wibowo mungkin tidak paham, bahwa manusia ada keterikatan batin dengan tempat. Surabaya boleh jadi memang penuh gemerlap. Apalagi – kabar yang sampai di telinga Pak Carik Kartosuwiryo – Surabaya sekarang hijau dengan taman-taman yang rapi. Semua gara-gara Surabya dipimpin Petinggi yang suka berkebun. Tapi bagi Pak Carik Karto kalau ukurannya adalah hijau, tidak ada yang mengalahkan desanya. Kurang hijau apa hamparan padi di depan gandok desa, atau rumpun-rumpun bambu yang terhampar di belakang rumahnya. Soal rapi? Apa bagusnya rapi? Indah tidak hanya ada pada keteraturan. Indah ada di segala segi kehidupan bila kita tahu bagaimana menikmatinya! Demikian pikiran Pak Carik sambil mengayuh sepeda onthelnya menuju sawah.

Kata orang, semakin bertambah usia, semakin susah orang untuk berubah. Dan bagi Pak Carik Karto, Sambirono sudah merupakan bagian besar dari dirinya. Memang, beberapa hal sudah berubah. Minto, Karsa, Paimin Ongkel, Darto Cikar dan kawan-kawan lainya sudah pada mendahuli dia menghadap Sang Pencipta. Bahkan istrinya sudah lima tahun lalu menyusul kawan-kawannya itu. Dan Wibowo anak satu-satunya memilih bekerja di kota untuk apa yang dia sebut ‘kesempatan berkarier’. Sambirono tidak seperti dulu lagi.

Tapi ya itulah hidup, begitu pikirnya. Rambutnya saja juga berubah yang dulunya hitam ikal, sekarang tipis dan putih. Tangannya yang dulu gagah mengayunkan cangkul sekarang gemetar bila untuk menulis, …. ya kadang-kadang sih.

Tapi sawah di depan gandok masih dalam ritmenya. Tanah coklat kehitaman, hijau tumbuh, kuning menjuntai, kering lunglai, dan kembali tanah coklat kehitaman. Begitu terus yang dia lihat bertahun-tahun ketika melintasi persawahan itu.

Jalan di depan rumahnya lurus, kemudian berkelok melewati dam Bondoyudho sampai akhirnya tiba di depan gandok. Ya begitu itu dari jaman dia memboceng istrinya dengan onthel kebanggaannya.

Bagi Carik Karto, itulah tanah dia, itulah air yang dia minum bertahun-tahun, masuk dalam tubuh dan meyegarkannya, kemudian dia buang setiap pagi, masuk lagi dalam tanah, merembes terus ke sumurnya, dan dia minum lagi, dan seterusnya dan seterusnya. Antara dia dengan tanah, air, padi-padi di sawah, atau batang-batang bambu di belakang rumahnya sudah terjadi pakta integritas – sebuah ikatan batin. Itulah yang di sebut rumah. Sejauh-jauh kau pergi berkelana, selalu ada kerinduan untuk kembali padanya. Rumah. Demikian Carik Karto berkesimpulan dalam benaknya.

 

/rzl