Celoteh

Terantuk di Indraprasta

Setelah diperiksa para resi
Semakin yakin akan kebenaran diri
Angkuh bersemayam bagai duri
Berasa menguasai ajimat langka nan sakti

Mengikuti jejak santo dan para sufi
Meniti ufuk tafakuri hari
Berharap segera pergi segera kembali
Menutup buku mendekati suci

Tapi ah,
Tuhan berkehendak lain
Suci bukan cerita hari ini
Ada misi lain siap menanti
Menantang peluru yang langsung masuk ke dalam hati

Dan ya,
Kunikmati seolah surga untukku di bumi
Menggebu dan bersorak sorai
Kuncup dan segala yang wangi
Sampai akhirnya kusadar ini bisa bercerai-berai

Kucoba halangi sinar mentari
Kuhalangi ombak di pantai
Kokoh seolah diriku karang yang berdiri

Tapi mereka bersekutu
Angin turut serta
Semuanya
Juga embun
Juga hujan yang menjadi badai
Juga gemericik air di pematang
Dan semua yang serba damai
Seolah tidak tersisa lagi di diriku yang namanya suci

Tapi masih aku dan karangku
Dan lukaku
Dan marahku
Dengan lantang menantang
Berusaha bertahan setegar elang

Sang waktu aku kurung
Berharap takdir tidak bersua dengannya
Tapi nampaknya pilihan bukan lagi punyaku
Memaksa untuk punah atau pudar

Dan lupa
Aku bukan karang
Bukan elang
Bukan tegar
Dan sama sekali tidak lantang

Aku hanyalah rongga dada
Dengan peluru yang masih bersarang di dalamnya