Arsitektur

Bincang Senja tentang Sayembara

Suatu sore, seorang kawan aktivis organisasi IAI berapi-api menceritakan keberhasilannya meyakinkan seorang Menteri tentang perlunya kebijakan agar proyek-proyek gedung pemerintah disayembarakan.

Sayembara, menurut dia, merupakan cara yang terbaik untuk melahirkan karya arsitektur. Dengan sayembara, dimungkinkan ide-ide segar lahir. Dengan sayembara, ada kesempatan partisipasi publik dalam suatu rancangan. Dengan sayembara, ada kesempatan arsitek-arsitek muda untuk menunjukkan hasil karyanya. Demikian dia berusaha meyakinkan kami yang sedang nongkrong di atap Jakarta Design Centre.

Kawan-kawanku para aktivis IAI nampaknya sependapat dengan dia, terbukti tidak ada yang mencoba membantah. Atau karena terlalu asyik dengan asap cengkeh-tembakaunya?

“Tapi bukannya sistem lelang proyek pemerintah tidak memungkinkan metode sayembara seperti yang Anda maksud itu?”, aku coba berkomentar sekenaku.

“Itulah yang harus kita perjuangkan!” sang aktivis begitu yakin.

“Apakah nanti semua orang bisa ikut sayembara arsitektur?”

“Ya tidak, hanya mereka yang memiliki sertifikat arsitek yang boleh berpartisipasi!”

“Apakah peserta sayembara boleh berkreasi sebebas-bebasnya?”

“Anda ini bagaimana, ya tentu saja ada kerangka acuan untuk sayembara. Harus ada aturan main agar rancangan yang dihasilkan memenuhi kebutuhan pemilik proyek.”

“Ya, ya, ya,”kataku sambil menghisab kretekku dalam-dalam.”Berarti ada batasan anggaran biaya juga ya dalam kerangka acuan kerja tersebut?”

“Tentu saja. Arsitek harus bisa memperkirakan biaya pembangunan hasil karyanya tersebut. Faktor biaya tersebut yang salah satu dinilai oleh juri,” kata kawanku ini menambahkan.

Aku berpikir, ketika ada praqualifikasi siapa-siapa yang boleh ikut sayembara, ketika ada ketentuan kerangka acuan sebagai aturan main, ketika ada kreteria penilaian lain seperti biaya untuk menentukan pemenang, lha bukankah sistem lelang proyek pemerintah saat ini juga demikian? Tentu saja dengan aturan-aturan yang lebih detail. Ada persyaratan peserta lelang, ada kerangka acuan, ada panitia yang menilai usulan teknis dan biaya yang diajukan; bukankah secara subtansi itu sama dengan sayembara yang dimaksud kawan tadi?

“Jelas beda dong. Panitia tidak sama dengan juri sayembara. Mereka tidak punya kompetensi yang cukup untuk menilai karya arsitektur!”

Aku setuju dengan kawanku tadi. Tidak semua panitia lelang memiliki kemampuan untuk menilai karya arsitektur. Tapi bayanganku, ketika kampaye “Sayembara untuk Proyek Pemerintah” berhasil, artinya kita memerlukan ratusan ribu juri yang kompeten untuk menjadi juri proyek pemerintah setiap tahunnya. Dari mana kita dapatkan mereka itu sedangkan anggota IAI yang bersertifikat hanya di kisaran enam ribu orang saja. Aku pikir sebagai sebuah ide, gagasan kawan tadi terdengar gagah dan idealis, tetapi absurd dan tidak mendasar. Jangan-jangan kawan tadi hanya copy-pasteide-ide arsitek seniornya atau dia telan mentah-mentah dari artikel di Architectural Record.

“Anda lihat, berbagai karya arsitektur hebat dunia dihasilkan dari sayembara. Syney Opera House, misalnya. Atau contoh di dalam negeri, Gedung MPR-DPR! Karya yang hebat bukan?”

Sebetulnya aku tidak ingin berdebat soal ini. Sebab setahuku Sydney Opera House memang dari hasil sayembara. Tetapi pelaksanaannya tidak semulus yang digambarkan oleh kawan tadi. Sayembara yang dimenangkan Jorn Utzon tidak lepas dari kontroversi. Disamping berbagai kritik dan tentangan dari warga kota, karya ini juga over-budget sampai empat belas kali lipat dari rencana awal, dan penyelesaiannya mundur sampai sepuluh tahun! Kalau soal banyak gedng-gedung indah yang merupakan hasil dari sayembara, aku juga bisa menyebutkan sepuluh kali lipat karya-karya arsitektur terbaik yang tidak dari sayembara. Jadi argumentasi tadi aku rasa lebih banyak emosionalnya dibanding rasionalnya.

Soal Gedung MPR-DPR? Wah kalau ini aku malah hanya bisa tersenyum. Karena berdasarkan informasi dari pelaku sejarahnya langsung, ini bukanlah hasil sayembara yang sesungguhnya. Pun apabila kita cermati dari informasi buku-buku atau terbitan resmi dari DPR sendiri, kita bisa baca, bahwa pemilihan rancangan waktu itu tidak memenuhi kreteria sebuah sayembara, bahkan yang buruk sekalipun.

Jadi menurutku, kita harus memiliki kehati-hatian yang cukup untuk mengkampanyekan metode sayembara untuk pencarian hasil karya arsitektur terpilih. Sebab disamping-tentu saja-kelebihannya, ada banyak jeram-jeram yang perlu dicermati.

Kita tidak ingin menjadi perpanjangan tangan developer yang ingin memperoleh desain dengan harga murah. Hanya dengan sekian ratus juta, dia memperoleh ratusan ide yang bisa dia terapkan di berbagai real-estatenya. Sungguh sebuah peluang bisnis yang menggiurkan dengan cara mengelabuhi para arsitek untuk berkompetisi.

Semangat yang digelorakan oleh beberapa pihak dalam mengkampanyekan sayembara juga sering tidak dilandasi dasar pemikiran yang matang. Tidak semua jenis proyek arsitektur pas untuk disayembarakan. Ada beberapa diantaranya yang perlu komunikasi intens antara pemilik dan arsitek sehingga dapat menghasilkan karya yang betul-betul memenuhi kebutuhan dan keinginan pemilik disamping tetap memperhatikan kaidah-kaidah perancangan arsitektur. Karena sebuah karya arsitektur merupakan hasil kerja bersama antara pemilik sebagai pengguna, arsitek sebagai perancang, kontraktor sebagai pembangun, dan pihak-pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung ikut serta dalam mewujudkan sebuah karya arsitektur. Dengan demikian maka seorang atau sekelompok arsitek tidak bisa berkarya hanya dengan mengandalkan daya imajinasnya saja. Sebab rancangan yang dihasilkan harus bisa dibangun oleh pelaksana, dan pada akhirnya dimanfaatkan oleh pengguna. Maka karya arsitektur hasil sayembara memiliki resiko lebih besar dalam hal kegagalan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pemilik karena tidak terjadi interaksi antara arsitek dan pemilik.

Bagi kawanku tadi, sayembara arsitektur dipandang sebagai sebuah cara yang terbuka sehingga memungkinkan lebih banyak alternatif rancangan yang pada akhirnya bisa melahirkan sebuah karya terbaik. Asumsi ini sebenarnya batal dengan sendirinya karena bahkan sebuah sayembara arsitektur yang terbuka sekalipun selalu mencantumkan prasyarat bagi pesertanya, bukan?

Senja semakin kelam, asap-asap rokok masih mengepul dari mulut-mulut kami, sementara kawanku tadi masih berusaha meyakinkanku tentang gagasanya. Sambil menatap matahari yang semakin jingga dan temaram aku tetap medengarkan khotbah dia. Barangkali ada kebenaran-walau sedikit-dalam argumentasinya. Meskipun aku ragu akan hal itu.

 

/rzl