Celoteh

Jeda dan Kelana

Senja. Senja selalu eksotik. Sehangat ibu seolah memeluk, setragis kekasih yang akan pergi jauh, bagai misteri melingkupi segala yang fana: menjelang pudar.

Ujung pagar batu hotel Alila Ubud. Sepi. Semua bersiap menyambut malam. Bahkan belalang meringkuk diam di bawah kelopak angsana. Senyap. Hanya rintik yang coba mendominasi.

Aliran sungai Ayung nampak tenang menuju semburat jingga yang kelihatan makin kusam tersaput mega. Senja. Pohon-pohon di ngarai ini bergeming. Tinggi tegar. Entah sudah berapa puluh tahun mereka setia menemani bumi tempat berpijak. Meliuk-liuk diterpa angin, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, tapi pantang beranjak, atau tumbang dalam bertahan.

Gerimis. Menambah magisnya senja. Membasahi merah hitam topi metaphoraku, dinginnya menusuk kulit, ces, seolah butir es disuntikan langsung ke permukaan tulang. Tapi aku meniru pepohonan itu: bergeming.

Hujan. Fenomena purba yang sungguh menawan. Pithecantropus-erectus juga menjumpai fenomena ini. Apakah mereka sempat memikirkannya? Juga para pengelana dari Yu Nan.

Juga Dharmawangsa.

Juga Gajah Mada.

Diponegoro, ketika merambah hutan-hutan Jawa.

Sudirman ketika mengelana dengan tandunya.

Sukarno ketika dalam pembuangan.

Semua disapa oleh hujan. Hujan yang sama dengan yang menyapaku di senja ini. Apakah mereka berpikir sama sepertiku?

Mereka semua sudah lenyap. Mati. Mereka sudah tidak ada. Bahkan juga jejak kaki mereka di tanah becek. Lenyap.

Tapi mereka pernah ada. Mereka pernah berjalan di muka bumi ini. Hanya saja giliran mereka sudah usai. Tunai.

Sekarang giliran kita. Menapak tanah becek, untuk coba mengguratkan bekas, sesulit apapun itu. Kita melakukan perjalanan.

Jeda sejenak untuk menyapa hujan dan senja.

Untuk kemudian berkelana lagi di kolong langit.

 

/rzl