Arsitektur

Arsitektur sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

Pertama,

bahasan ini tidak dimaksudkan sebagai kajian ilmiah, sehingga terminologi dan konsep dari arsitektur, karakter, dan bangsa tidak dibahas mendalam. Juga – misalnya – mengenai pertukaran istilah karakter, simbol dan identitas, yang sebetulnya memerlukan pembahasan tersendiri. Tentu, penyederhanaan ini melahirkan resiko terjadinya perdebatan menyangkut kesepakatan-kesepakatan dasar mengenai materi bahasan. Tetapi bila hal itu terjadi, maka tujuan penulisan ini sudah mulai tercapai.

Dan mestinya,

isitilah karakter bangsa, yang kita pinjam dari antropologi, tidak mengasumsikan adanya konsep yang statis. Karena secara tradisional, antropologi selalu mengandaikan sebuah perubahan yang bersifat evolusi dibanding dengan revolusi. Dengan demikian, karakter bangsa akan selalu berkembang dan bersifat tertunda.

Namum demikian,

bukan berarti kita tidak bisa menandai karakter suatu bangsa, paling tidak pada suatu waktu tertentu. Hal ini penting, karena dengan demikian kita bisa mengevaluasi dan mengambil langkah-langkah, bila dirasa perlu, untuk meluruskan karakter bangsa sebagaimana kesepakatan dan persepsi kolektif anak-anak bangsa.

Bagi kita,

dalam kadar tertentu karya arsitektur merupakan karya kolektif. Disamping arsitek sebagai perancang, ada pemberi tugas, pengguna karya arsitektur, penyedia bahan bangunan, masyarakat, media massa, dan sebagainya. Ini yang menjadi premis awal bahwa karya arsitektur bisa dijadikan alat untuk melihat suatu bangsa. Artinya sebuah bangsa menciptakan arsitekturnya. Premis ini tentu dengan penyederhanaan-penyederhanaan tertentu mengingat sebuah bangsa tidak selalu homogen, bahkan dimungkinkan adanya bangsa yang terdiri dari bangsa-bangsa. Karena arsitektur dapat dapat menggambarkan sebuah bangsa, maka Victor Hugo dalam Nitre-Dame de Paris sangat menganjurkan, let us inspire the nation with a love for national architecture.

Juga,

bila menengok peradaban manusia jauh ke awal sejarah, yang kemudian menyadarkan kita bahwa arsitektur merupakan unsur  yang penting untuk mempelajari sebuah karakter sebuah bangsa. Hal ini, disamping karena karya arsitektur lebih tahan terhadap terpaan waktu – dibanding unsur peradaban yang lain – juga seperti di sampaikan Yuswadi Saliya, bahwa arsitektur merupakan rekaman peradaban manusia yang paling lengkap. Dalam sebuah karya arsitektur kita dapat mempelajari unsur peradaban lain seperti gaya hidup, seni, pola kekuasaan dan lain-lain. Maka, seperti kata Heather McMahon, architecture is perhaps the most enduring and expressive of all the types of material culture.

Kemudian,

sebuah arsitektur dirancang untuk memenuhi fungsi tertentu. Pada saat sebuah karya arsitektur berfungsi maka penggunanya akan berperilaku sebagaimana karya itu dirancang. Disediakan urinoir, maka mereka akan buang air dengan berdiri. Tidak disediakan lift, maka akan terpaksa naik lantai berikutnya dengan tangga. Sebuah karya arsitektur mempengaruhi bagaimana kita belanja, belajar, bekerja dan berkeluarga. Sampai akhirnya bila ditarik lebih tinggi – sadar atau tidak sadar – arsitektur telah membentuk sebuah bangsa. Dalam kontek ini, membuat kita teringat kata-kata Winston Churcill, first we shape our buildings, then they shape us.

 

Setelah itu,

kita mencoba menengok usaha bangsa-bangsa dalam membangun dan dibangun arsitektur dan kemudian karakternyanya. Dalam banyak kasus, mereka biasanya lari ke masa lalu untuk mencari peninggalan-peninggalan leluhurnya dan dijadikan referensi utama dalam bersikap hari ini. Bukan sesuatu yang salah – tentu saja – tetapi jangan-jangan para leluhur itu tidak benar-benar menyiapkan bahan yang cukup untuk para cucunya. Ketika konsep sebuah bangsa bersifat “belum selesai”, “tertunda”, dan selalu berubah, bagaimana mungkin untuk menyusunnya dengan memperlakukan “lampau” sebagai sesuatu yang agung.

Akhirnya,

walaupun karakter bangsa terbentuk dari kesadaran bersama, yang diterjemahkan dalam suatu simbol-simbol tertentu, apabila menyangkut simbul-simbul fisik, jarang terjadi kesepakatan semua unsur bangsa tentang hal ini. Karena itu arsitek memiliki peranan penting untuk mengemukakan ide-ide yang menyangkut karakter bangsa. Seperti ditegaskan Anthony Smith,  that symbols “have always possessed the emotive collective qualities that can band a nation together, and architecture is one of the grandest examples of such a symbol”.

Dan untuk mencapai hal tersebut, arsitek harus berani mengambil resiko untuk berbeda, karena bisa jadi “kesepakatan bersama” atau “persepsi kolektif” tidak bisa dilihat dan dibaca secara betul oleh setiap anak bangsa. Dan ketika pertempuran telah usai, setiap anak bangsa sudah menguap, maka yang tertinggal adalah tonggak karakter bangsa tersebut.