Arsitektur

Wawancara Tabloid Rumah Kita

Bagaimana perkembangan arsitektur di Indonesia?

Secara umum arsitektur di Indonesia jalan di tempat. Tidak ada perkembangan substansial yang mendobrak paradigma yang menaungi banyak arsitek Indonesia. Banyak arsitek yang kemudian terjebak pada trend dan berakhir kepada arsitektur selimut. Bentuk dan tampilan seolah segala-galanya. Arsitektur yang seharusnya menghasilkan ruang untuk mewadahi kegiatan manusia cenderung mengarah kepada seni instalasi yang menekankan kepada pemaknaan bentuk.

 

Secara spesifik, bagaimana dengan perkembangan arsitektur rumah-rumah pribadi dan bangunan publik? Bagaimana trendnya?

Sama seperti kecenderungan arsitektur secara umum, arsitektur rumah pribadi juga tidak beranjak jauh. Saya menyambut baik adanya media-media arsitektur, baik online maupun offline, yang lebih mudah diakses saat ini. Tetapi pada kadar tertentu, seringkali mahasiswa kita terpengaruh dengan tampilan-tampilan indah dalam majalah, dan lemah dalam eksukusi rancangan. Itu yang saya maksud dengan arsitektur selimut tadi.

Arsitektur rumah tinggal retro, atau yang banyak disebut saat ini sebagai arsitektur minimalis, sah-sah saja menjadi kecenderungan umum bagi masyarakat Indonesia. Tetapi seringkali tidak disadari bahwa, apa yang disebut gaya minimalis tersebut menimbulkan lubang problema berkaitan dengan kondisi iklim dan alam kita yang tropis, dimana ditandai dengan melimpahnya cahaya matahari dan curah hujan sekaligus. Lubang ini yang mestinya menjadi porsi arsitek untuk mengatasinya. Hanya saja dalam banyak kasus, kita tidak mau capek-capek mencari solusi dan sudah nyaman dengan tercapainya tampilan yang minimalis tadi.

 

Prestasi penting apa saja yang bisa dicatat dalam sejarah arsitektur di Indonesia?

Saya memandang prestasi tidak hanya berupa award-award yang selama ini sering diberikan. Prestasi berhubungan dengan pengakuan. Bila kita bicara soal sejarah arsitektur di Indonesia, sebenarnya itu mencakup periode yang sangat panjang, bahkan sebelum wilayah ini belum disebut Indonesia. Selama kurun waktu tersebut sudah banyak capaian-capaian yang sudah dihasilkan dari segala daya budi nenek moyang kita. Bentuk Borobudur, Gunung Padang, Wringin Lawang, dan seturusnya merupakan deretan diantaranya. Juga berbagai bangunan tradisional yang merupakan jawaban nalar atas berbagai kondisi lingkungan dimana bangunan tersebut berada.

Pada periode berikutnya, para arsitek Eropa yang berkarya di nusantar pada masa Hindia Belanda, juga sudah menunjukkan usaha serius untuk “membumikan” paradikma Eropa ke dalam ruang-bentuk yang menjawab masalah-masalah lokalitas.

Apabila prestasi dimaknai sebagai penghargaan dari pihak luar, beberapa karya arsitek kita sudah menerima penghargaan dari berbagai lembaga internasional. Beberapa karya arsitek kita telah menerima Aga Khan Award. Disamping itu beberapa arsitek muda kita juga memenangkan beberapa kompetisi internasional di berbagai negara.

 

Bagaimana dengan perkembangan pendidikan dan keahlian arsitektur sendiri? Apa saja yang bisa dicatat di bidang ini?

Pendidikan arsitektur kita secara terlembaga berusia 60 tahun. Ini bisa dibaca baru 60 tahun atau telah 60 tahun. Baru 60 tahun, bila mengacu kepada pendidikan arsitektur di negara-negara yang lebih dulu berkembang. Telah 60 tahun, bila mengacu bahwa sebetulnya sebagaimana manusia, mestinya sudah cukup dewasa dalam menapaki perjalanannya. Terbukti sejak pertama kali diselenggarakan saat ini sudah lebih dari seratus perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan arsitektur.

Sebagaimana disiplin lain di perguruan tinggi di Indonesia, pendidikan arsitektur di Indonesia saat ini terdiri dari 144 sks, yang dalam pelaksanaannya dibutuhkan waktu sekitar 4 tahun. Di sisi lain, tuntutan dari kesepakatan UIA (The International Union of Architects) bahwa seorang arsitek harus menempuh pendidikan 5 tahun. Kesenjangan ini yang kemudian berusaha dijembatani oleh IAI dengan program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) selama satu tahun. Prograa ini sudah mulai berjalan dan diadopsi oleh beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

 

Menurut Bapak, apa saja yang harus dibenahi untuk memajukan dunia arsitektur di Indonesia? Siapa saja dan pihak mana saja yang seharusnya berperan dalam hal ini?

Saya kira kita masih punya cukup banyak lahan yang bisa digarap untuk memajukan dunia arsitektur di Indonesia.

Mulai dari pendidikan arsitektur, misalnya bagaimana para mahasiswa arsitektur bisa memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih komprehensif dalam bidang arsitektur baik secara teori maupun praktek. Diperlukan dosen dan pembimbing yang memiliki cukup wawasan mengenai keprofesian, sehingga dapat menularkan cara pandang yang lebih tepat dalam berarsitektur.

Hal lain yang juga perlu dibenahi adalah sisi peraturan perundang-undangan. Sebagai salah satu profesi yang spesifik, sebagaimana dokter, notaris, dan akuntan, profesi arsitek menjadi satu-satunya profesi yang masih belum diatur dalam undang-undang tersendiri.

Bayangkan bahwa dalam keseharian, bangsa Indonesia tidak akan pernah terlepas dari arsitektur dan karya arsitektur; rumah, perkantoran, terminal, bandara, dan semua keseharian kita. Tetapi apakah kita semua cukup memiliki perhatian untuk membuat pranata profesi ini lebih baik? Saya kira perhatian pemerintah pun masih jauh dari mencukupi.

Kemudian, dari sisi iklim berusaha. Apabila kita meninjau pengadaan pekerjaan konsultan arsitektur yang diatur pemerintah, kita kembali harus menyedian ruang untuk bersabar; masih sangat jauh dari harapan; dimana kita menemui karya arsitektur dianggap barang, tanpa menghargai daya budi yang dihasilkan para arsitek.

 

Dalam sumbangsihnya terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia, apa program-program yang sudah dan akan dilakukan oleh Ikatan Arsitek Indonesia?

IAI didirikan memang bertujuan untuk membuat iklim arsitektur Indonesia yang lebih baik dan lebih bermartabat. Untuk menuju hal tersebut, tentu saja sudah banyak yang IAI lakukan; tetapi lebih banyak lagi yang akan dan harus dikerjakan. Mulai dari sumbangsih dalam memperkaya pendidikan arsitektur, menjadi mitra pemerintah dalam membenahi pranata arsitek di Indonesia, juga berusaha membuat iklim usaha dalam bidang arsitektur bisa lebih berpihak kepada kemajuan arsitektur Indonesia. Penterjemahan dari program-program tersebut berupa ribuan kegiatan yang sudah dan akan dilakukan Ikatan Arsitek Indonesia.